PERILAKU
DALAM ORGANISASI
Organisasi
merupakan bagian yang penting dalam segala hal yang berkaitan dengan
kelembagaan, khususnya lembaga pendidikan. Dengan adanya organisasi akan ada
kerjasama yang saling berkesinambungan antara bagian yang satu dengan yang lain
dalam suatu perusahaan maupun lembaga pendidikan. Organisasi terdiri dari
berbagai komponen dengan fungsi masing – masing.
Saat
berorganisasi ada beberapa perilaku yang mestinya kita lakukan. Perilaku
tersebut yang kemudian disebut sebagai perilaku berorganisasi. Salah satu
contoh perilaku tersebut adalah mengenai kedisiplinan. Disiplin merupakan sifat
seseorang yang taat, patuh, setia, teratur serta tertib dalam menjalankan tugas
yang dibebankan kepadanya. Kedisiplinan sebagai wujud penghargaan terhadap
peraturan – peraturan yang telah disepakati dalam berorganisasi. Untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan, kedisiplinan dari setiap organisatoris sangat
dibutuhkan.
Sebagai
insan yang tidak dapat hidup sendiri karena sifat manusia sebagai makhluk
sosial, perlu adanya pemahaman tentang organisasi bagi manusia, terlebih jika
ia sebagai seorang pemimpin dalam lembaga pendidikan. Ilmu keorganisasian
sangat dibutuhkannya untuk dapat mengatur lembaga yang ia pimpin. Terdapat
tingkatan analisis, pendekatan, serta tujuan mempelajari perilaku organisasi
yang akan dibahas dalam makalah ini.
1. Pengertian Perilaku Organisasi.
Perilaku
organisasi merupakan ilmu pengetahuan yang membahas tentang dampak
perseorangan, kelompok, dan struktur dalam perilaku berorganisasi dengan tujuan
menerapkan pengetahuan mengenai hal – hal tersebut guna memperbaiki efektivitas
organisasi.[1][1] Ilmu dalam perilaku organisasi
mempelajari banyak hal termasuk tentang perilaku perseorangan, kelompok,
struktur serta proses dalam organisasi. maksud dari pembelajaran ini adalah
supaya dalam berorganisasi segala yang menjadi hambatan dapat teratasi.
Jons
berpendapat :
“ Organizational behavior is a rather general term that refers to the
attitudes and behaviors of individuals and groups in organizations. The discipline
or filed organizational behavior involves the systematic study of these
attitudes and behaviors. Thus, the filed is concerned withboth personal and
interpersonal issues in an organization context. “
Nirman
(1996) mengartikan pernyataan Jhons tersebut sebagai, “Perilaku organisasi
adalah suatu istilah yang agak umum yang menunjuk pada sikap dan perilaku
individu dan kelompok dalam organisasi, yang berkenaan dengan studi yang
sistematis tentang sikap dan perilaku, baik yang menyangkut pribadi maupun antar
pribadi dalam konteks organisasi.” [2][2]
Dalam
pembelajaran bidang studi perilaku organisasi tidak hanya memberikan bantuan
untuk mengerti dan menguraikan tindakan seseorang, namun lebih mengajarkan
tentang bagaimana untuk mencapai tujuan organisasi tersebut. Sehingga
mempelajari pengetahuan tentang perilaku organisasi memiliki manfaat yang lebih
dibandingkan dengan mempelajari pengetahuan lainnya, karena telah dijelaskan
sejara mendalam bagaimana gejala – gejala yang ada di dalam organisasi disertai
dengan teori – teori penyelesaiannya, hal ini lah yang nantinya mempermudah
bagi siapapun yang mempelajarinya terlebih orang – orang yang memang menggeluti
ranah keorganisasian.
2.
Tingkatan Analisis dalam Perilaku
Organisasi
1.
Menganalisis
perilaku organisasional dalam tingkatan individu.
Individu
merupakan salah satu komponen dalam organisasi. kumpulan dari individu itulah
yang nantinya saling bekerjasama dalam satu tujuan yang kemudian disebut dengan
organisasi. Setiap individu memiliki ciri, karakter serta watak masing –
masing. Karena keseragaman itulah sering terjadi perbedaan pendapat didalam
organisasi.
Walaupun
berbeda namun tujuan setiap individu adalah sama dalam suatu organisasi, karena
setiap individu dituntut untuk menjalankan tugasnya di bidang masing – masing
untuk tercapainya rencana yang telah di rancang dan di sepakati sebelumnya
dalam organisasi.
Ketika
perbedaan muncul, tak mudah memang menyatukan persepsi. Hal ini karena telah
melekat sifat dan kepribadian masing – masing yang ingin memenuhi kebutuhannya
sendiri. Peran seorang pemimpin sangat dibutuhkan dalam hal ini. Seorang
pemimpin dalam organisasi memiliki tugas menyelaraskan perbedaan – perbedaan
antarindividu, sehingga terjadi keharmonisan, dimana efek dari hal itu akan
kuatnya kekuatan organisasi tersebut setiap menjalankan apa yang semestinya
dilaksanakan. Saat semua terlaksana dengan baik, maka kualitas organisasi
tersebut baik pula.
2 1. Menganalisis
perilaku organisasional dari tingkat kelompok.
Tingkatan
analisis kedua yaitu perilaku organisasi kelompok. Kelompok adalah kumpulan
dari individu. Meski demikian, sifat yang muncul dalam suatu kelompok belum
tentu menggambarkan sifat dari kumpulan individu tersebut.
Dikatakan
demikian karena didalam kelompok memiliki tugas, wewenang, budaya, norma,
etika, sikap, dan keyakinan masing – masing yang kemudian membentuk pola
perilaku kelompok. Dengan terbentuknya pola perilaku kelompok, besar
kemungkinan akan terjadi gesekan antara kelompok yang satu dengan yang lainnya.
Lagi – lagi dalam hal ini, sosok seorang pemimpin yang cerdas serta tegas
sangat dibutuhkan untuk dapat menyelaraskan keadaan, sehingga antara kelompok
yang satu dengan yang lain saling berkesinambungan alias gotong royong, bersatu
dalam mencapai dan mewujudkan tujuan dari organisasi.
2. Menganalisis
perilaku organisasional dari tingkatan organisasi
Tingkatan
ketiga dalam menganalisis perilaku organisasi adalah tingkatan organisasi.
Seperti pernyataan pada awal, bahwa perilaku organisasi bukanlah kumpulan dari
perilaku individu maupun perilaku kelompok. Setiap organisasi memiliki, visi,
misi, struktur, anggaran dasar, anggaran rumah tangga, kebijakan, program
kerja, tujuan, norma, strategi, serta adat atau budaya masing – masing.
Dalam
organisasi ada yang menganut asas desentralisasi ada juga yang menganut asas
sentralisasi. Organisasi yang menganut asas desentralisasi, bawahan mempunyai
hak atau kesempatan untuk berpartisipasi dalam membuat keputusan yang diambil
oleh seorang pemimpin. Sebaliknya, asas sentralisasi dalam mengambil
keputusannya berpusat pada pemimpin, sedangkan bawahan tidak memiliki
kesempatan untuk berpartisipasi didalamnya.
4.
Faktor
Lingkungan
Faktor
lingkungan mempengaruhi jalannya organisasi. maju atau tidaknya suatu
organisasi memiliki keterkaitannya dengan kondisi lingkungan yang ada. Factor
ekonomi, politik, budaya, hokum, teknologi, alam, dan lain – lain adalah contoh
factor eksternal yang secara signifikan mempengaruhi jalannya organisasi.
selain faktor eksternal tersebut, faktor yang muncul dari dalam atau internal
juga mempengaruhi jalannya organisasi. salah satu contohnya adalah rendahnya
semangat individu dalam menjalankan tugasnya. Ketika kualitas kinerja rendah
tentu produksi yang dikeluarkan dalam sebuah perusahaan akan mengalami
penurunan. Begitu pula dalam dunia pendidikan, ketika semangat mengajar dari
guru menurun maka kualitas pendidikan yang ada akan rendah. Untuk mengatasi hal
ini,harus segera diadakan analisis serta membicarakan bagaimana solusi untuk
mengatasi masalah – masalah yang ada ini.
3.
Pendekatan dalam perilaku
organisasi.
Perlu adanya
pendekatan didalam perilaku organisasi. pendekatan dalam perilaku organisasi
tersebut adalah sebagai berikut[4][4] :
1. 1. Pendekatan
Sistem
Pendekatan
Sistem adalah pendekatan yang lebih menekankan pada sistem yang ada dalam suatu
organisasi. Pendekatan ini mengkritisi kinerja yang ada dalam organisasi,
apakah baik atau tidak, perlu adanya perubahan atau tidak.
Perubahan
perilaku organisasi yang disempurnakan dengan sistem secara menyeluruh perlu
dilakukan jika sistem kurang berjalan dengan baik. perubahan yang baik dan
efektif merupakan suatu yang sulit dan memerlukan waktu yang lama. Yang
diperlukan dalam perilaku organisasi adalah memperkaya sistem sosioteknis
secara berangsur – angsur untuk membuatnya lebih sesuai dengan orang – orang.
Ini merupakan tugas yang sangat menantang.
2. 2. Pendekatan
Kontingensi
Dalam
pendekatan ini, perilaku organisasi di terapkan dalam hubungan kontingensi.
Supaya menjadi efektif dalam kinerjanya, tidak semua organisasi membutuhkan
kadar partisipasi, karena suatu saat ada beberapa situasi memungkinkan adanya partisipasi yang lebih
besar dibandingkan dengan situasi saat itu dan sebagian orang lebih memilih
partisipasi ketimbang orang – orang lainnya.
3. 3. Pendekatan
Sosial.
Pendekatan
sosial menyadari bahwa apa yang terjadi diluar memberikan pengaruh terhadap
praktik perilaku organisasi. Begitu pula sebaliknya, apa yang terjadi di dalam
organisasi mempengaruhi jalannya praktik kinerja organisasi terhadap lingkungan
luar. Seorang pemimpin harus tanggap serta sigap dalam mengatasi kondii semacam
ini, karena hal ini merupakan pengaruh atas operasi di dalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar