KOMPENSASI
MANAJEMEN
Kompensasi
merupakan balas jasa yang diberikan oleh organisasi/perusahaan kepada karyawan,
yang dapat bersifat finansial maupun non finansial, pada periode yang
tetap. Kompensasi sangat berpengaruh bagi perusahaan maupun bagi karyawan
perusahaan. Kompensasi/upah bermanfaat bagi perkembangan karyawan dan bagi
perusahaan keuntungannya para karyawan akan bekerja lebih giat lagi dan
karyawan akan termotivasi untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi. Akan tetapi
bila kompensasi itu diberikan tidak memadai atau kurang tepat, prestasi kerja,
motivas dan kepuasan kerja karyawan akan menurun.
Besarnya
kompensasi yang diberikan ditentukan oleh : harga/nilai pekerjaan, sistem
kompensasi yang diterapkan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi kompensasi.
A.
PENGERTIAN KOMPENSASI
Kompensasi
adalah semua pendapatan yang berbentuk uang, barang langsung atau tidak
langsung yang diterima karyawan sebagai imbalan atas jasa yang diberikan kepada
perusahaan (Malayu S.P. Hasibuan, 2002:54). Kompensasi berbentuk uang, artinya
gaji dibayar dengan sejumlah uang kartal kepada karyawan yang bersangkutan.
Kompensasi berbentuk barang, artinya gaji dibayar dengan barang. Misalnya gaji
dibayar 10% dari produksi yang dihasilkan. Di Jawa Barat penunai padi upahnya
10% dari hasil padi yang ditunai.
Kompensasi
merupakan istilah yang berkaitan dengan imbalan-imbalan finansial (financial
reward) yang diterima oleh orang-orang melalui hubungan kepegawaian mereka
dengan sebuah organisasi. Pada umumnya bentuk kompensasi berupa finansial
karena pengeluaran moneter yang dilakukan oleh organisasi. Kompensasi bisa
langsung diberikan kepada karyawan, ataupun tidak langsung, dimana karyawan
menerima kompensasi dalam bentuk-bentuk non moneter.
Manajemen
kompensasi merupakan mekanisme untuk mendorong dan mempengaruhi personel serta
sebuah elemen penting dalam organisasi untuk mencapai tujuan dalam organisasi.
B.
KETERKAITAN MANAJEMEN KINERJA DENGAN MANAJEMEN KOMPENSASI
Kompensasi
yang pada umumnya diberikan perusahaan ialah berupa gaji untuk karyawannya.
Namun, sebenarnya kompensasi yang diberikan perusahaan tidak hanya berupa gaji,
namun dapat dikelompokkan menjadi:
1.
Kompensasi Finansial Langsung.
Kompensasi
langsung ini dapat berupa bayaran pokok(gaji), bayaran atas prestasi yang telah
diberikan karyawan untuk perusahaan, juga dapat berupa bayaran insentif.
2.
Kompensasi Finansial Tidak Langsung.
Yang
termasuk kompensasi tidak langsung yaitu dapat berupa tunjangan tunjangan,
asuransi, kesehatan, juga fasilitas lainnya yang diberikan perusahaan seperti
kendaraan, ruang kerja, dan lain-lain diluar gaji pokok, upah, dan bonus.
3.
Kompensasi Non Finansial
Berbeda
dengan kompensasi finansial langsung maupun tidak langsung, kompensasi non.
finansial ini tidak berupa uang ataupun tunjangan, melainkan kepuasan yang
diperoleh oleh pekerja itu sendiri karena lingkungan psikologis dan fisik dari
tempat kerjanya.
Pengaruh
Kompensasi Terhadap kinerja Karyawan
Para tenaga
kerja melakukan tugasnya diperusahaan salah satunya ialah karena mengharapkan
kompensasi atau balas jasa dari perusahaan tersebut. Pada umumnya, kompensasi
yang diberikan tentu tidak akan disama ratakan untuk semua karyawan atau tenaga
kerja di perusahaan tersebut. Inilah yang menyebabkan terkadang ada karyawan
yang merasa belum cukup dengan kompensasi yang diberikan untuknya. Sehingga
seringkali terjadi pemogokkan kerja karena masalah kompensasi tersebut.
Kompensasi
memang menjadi salah satu motivasi bagi karyawan itu sendiri untuk meningkatkan
kinerjanya. Sehingga para karyawan berlomba untuk meningkatkan kreativitasnya
untuk perusahaan tersebut. Bagi mereka yang dapat terus meningkatkan
kreativitasnya, maka kompensasi pun akan ditingkatkan seiring dengan
meningkatnya kinerja dan kreativitas karyawan tersebut. Namun bagi yang belum
bisa meningkatkan kreativitasnya, kompensasi pun tidak akan diberi peningkatan
sehingga terkadang mengakibatkan frustasi bagi karyawan itu sendiri dan
akhirnya kinerja karyawan tersebut pun semakin menurun.
Jadi pada
intinya, semakin besar kompensasi yang diberikan perusahaan kepada karyawannya,
maka akan semakin tinggi usaha para karyawan untuk meningkatkan kinerjanya. Dan
begitupun sebaliknya, apabila kompensasi yang diberikan kepada karyawan semakin
rendah bahkan dibawah rata-rata yang telah ditetapkan dalam hukum, maka akan
semakin rendah kinerja yang diberikan karyawan untuk perusahaan tersebut karena
mereka akan merasa kompensasi yang diberikan baik kompensasi finansial maupun
nonfinansialnya tidak sebanding dengan yang mereka berikan kepada perusahaan.
Dan hal ini dapat menyebabkan karyawan tersebut berpindah tempat ke perusahaan
lain. Sedangkan jika diberikan kompensasi yang semakin meningkat, karyawan
tersebut pasti akan terus memberikan kinerja yang semakin meningkat di
perusahaan tersebut tanpa berpindah ke perusahaan lain.
Perbedaan
Kinerja Karyawan Tetap Dengan Karyawan Kontrak Sehubungan Dengan Bedanya
Kompensasi Yang diberikan
Dalam suatu
perusahaan, tentu ada posisi karyawan kontrak dan karyawan tetap. Karyawan
kontrak yaitu karyawan atau tenaga kerja yang dipekerjakan perusahaan namun
dengan batas waktu tertentu, misalnya hanya 3 bulan. Selebihnya, itu tergantung
pada perusahaan apakah ingin memperpanjang waktu kontrak dari karyawan tersebut
atau tidak. Sedangkan karyawan tetap yaitu karyawan yang dipekerjakan di
perusahaan tersebut tanpa batasan waktu.
Karyawan
tetap dalam perusahaan tentu akan merasa aman karena tidak akan ada batas waktu
ia bekerja di perusahaan tersebut. Mereka tidak akan diberhentikan dengan
alasan kontrak telah habis. Mereka hanya tinggal terus meningkatkan kinerjanya
untuk mencapai peningkatan karir di perusahaan tersebut sehubungan dengan
kompensasi yang diberikan untuk karyawan tetap yang berbeda dengan karyawan
kontrak. Untuk karyawan tetap, mereka akan diberikan kompensasi finansial tidak
langsung seperti tunjangan, asuransi, kendaraan, maupun fasilitas lainnya.
Terutama peningkatan jenjang karir yang akan menyebabkan peningkatan kompensasi
finansial langsung pula seperti peningkatan gaji pokok, bonus,dan sebagainya.
Dan tentunya kerja mereka di perusahaan tersebut sudah terjamin karena adanya
berbagai kompensasi yang diberikan kepada mereka namun tidak diberikan kepada
karyawan kontrak. Salah satunya ialah peningkatan jenjang karir, tunjangan, dan
sebagainya. Sehingga mereka terus termotivasi untuk meningkatkan kinerja mereka
di perusahaan tersebut.
Berbeda
halnya dengan karyawan kontrak yang tentu akan selalu merasa khawatir dalam
bekerja terutama apabila sudah mendekati batas waktu penghabisan kontraknya.
Mereka akan khawatir mengenai diperpanjang atau tidak kontrak mereka di
perusahaan tersebut. Dan mereka pun tidak mendapatkan kompensasi tunjangan
ataupun kompensasi finansial tidak langsung lainnya. Hal ini sehubungan dengan
masa kerja karyawan kontrak yang terbatas sehingga perusahaan tidak
memungkinkan untuk memberikan itu semua. Sehingga ini akan menjadi beban untuk
mereka sendiri dalam kinerjanya terhadap perusahaan.
1.
JENIS-JENIS KOMPENSASI
Komponen-komponen
dari keseluruhan program gaji secara umum dikelompokkan kedalam kompensasi
finansial langsung, tak langsung dan non finansial.
1.
Kompensasi finansial secara langsung berupa; bayaran pokok (gaji dan upah),
bayaran prestasi, bayaran insentif (bonus, komisi, pembagian laba/keuntungan
dan opsi saham) dan bayaran tertangguh (program tabungan dan anuitas pembelian
saham).
2.
Kompensasi finansial tidak langsung berupa; program-program proteksi (asuransi
kesehatan, asuransi jiwa, pensiun, asuransi tenaga kerja), bayaran diluar
jam kerja (liburan, hari besar, cuti tahunan dan cuti hamil) dan
fasilitas-fasilitas seperti kendaran,ruang kantor dan tempat parkir.
3.
Kompensasi non financial, berupa pekerjaan (tugas-tugas yang menarik,
tantangan, tanggung jawab, pengakuan dan rasa pencapaian). Lingkungan
kerja (kebijakan-kebijakan yang sehat, supervise yang kompoten, kerabat yang
menyenangkan, lingkungan kerja yang nyaman).
2. TUJUAN
MANAJEMEN KOMPENSASI
Adapun
tujuan manajemen kompensasi adalah sebagai berikut:
1. Untuk
menarik orang-orang yang kompeten, berkualitas, dan berkarakter bergabung
dengan organisasi.
2. Untuk
mempertahankan orang-orang yang memiliki keunggulan, kompetensi, berkualitas,
dan berkarakter baik yang sudah bergabung dengan organisasi agar tidak keluar
dari organisasi.
3. Untuk menjaga
agar orang –orang dalam organisasi tetap mau bekerja, karena kompensasi yang
tidak memadai memungkinkan pegawai untuk melakukan mogok kerja yang sebenarnya
sangat merugikan organisasi.
4. Untuk
memotivasi karyawan atau pegawai agar mencapai prestasi yang terbaik.
Ada beberapa
keuntungan dari menerapkan manajemen kompensasi, antara lain:
• Sistem
kompensasi yang didesain dengan adil dan baik, memberikan dampak positif dalam
efisiensi dan hasil kerja setiap karyawan/individu di dalamnya.
• Sistem kompensasi
yang adil mendorong karyawan untuk memberikan kinerja melebihi standar normal.
• Sistem
kompensasi yang adil membantu proses evaluasi jabatan (Job Evaluation), yang
lebih realistis dan dapat dicapai (achievable).
• Sistem
kompensasi tersebut mampu diaplikasikan ke dalam setiap tingkat jabatan di
dalam organisasi
• Sistem
memberikan keseimbangan kerja dan kehidupan(work-life balance). Sistem tidak
memberikan hukuman kepada karyawan untuk sesuatu yang diluar kendali, dan juga
tidak akan mengeksploitasi karyawan.
• Sistem
kompensasi akan meningkatkan moral kerja karyawan, produktifitas dan kerjasama
antar karyawan, selain memberikan kepuasan kepada karyawan.
• Sistem
kompensasi yang adil membantu manajemen dalam memenuhi dan menghadapi aksi
karyawan.
• Sistem
kompensasi yang adil membantu penyelesaian yang memuaskan kedua pihak bila
terjadi selisih antara serikat pekerja dan manajemen.
• Sistem
kompensasi yang adil memberikan dorongan dan kesempatan bagi karyawan untuk
berkinerja dan memberikan hasil lebih baik dari sebelumnya.
C. MEKANISME
REWARD DAN PUNISHMENT
1. Konsep
Sistem Reward dan punishment
Manajemen
sumberdaya manusia merupakan salah satu upaya yang sangat penting dalam
peningkatan kinerja pegawai. Salah satu yang berpengaruh adalah pemberian
kompensasi terhadap setiap aktivitas yang dilakukan. Pemberian kompensasi
merupakan salah satu pemenuhan kebutuhan fisik, yang mempengaruhi motivasi yang
pada gilirannya mempengaruhi perilaku pegawai. Oleh karena itu manajemen
kompensasi penting untuk meningkatkan motivasi pegawai mencapai prestasi yang
terbaik.
Pemberian
kompensasi berupa penghargaan (reward) yang tepat dalam arti memenuhan
kebutuhan karyawan secara adil dan layak merupakan prinsip penting dalam sistem
manajemen kompensasi. Manajemen kompensasi yang baik adalah kompensasi yang
berorientasi pada pemberian penghargaan, karena sistem penghargaan akan
mendorong manajemen untuk memperlakukan dan menempatkan karyawan pada posisi
yang terhormat atau dihormati dan berharga.
Reward
artinya ganjaran, hadiah, penghargaan, atau imbalan. Dalam konsep manajemen,
reward merupakan salah satu alat untuk meningkatkan motivasi para pegawai.
Metode ini bisa meng-asosiasi-kan perbuatan dan kelakuan seseorang dengan
perasaan bahagia, senang, dan biasanya akan membuat mereka melakukan suatu
perbuatan yang baik secara berulang-ulang. Selain motivasi, reward juga
bertujuan agar seseorang menjadi semakin giat dalam usaha memperbaiki atau
meningkatkan prestasi yang telah dicapainya. Sementara punishment diartikan sebagai
hukuman atau sanksi yang diberikan ketika terjadi pelanggaran.
Pemberian
penghargaan berupa reward dan punishment tidak dapat dilakukan tanpa alasan
yang rasional oleh karena itu organisasi harus memiliki mekanisme reward dan
punishment yang jelas. Mekanisme atau proses pemberian reward dan panishment
melibatkan beberapa variabel seperti motivasi, kinerja, kepuasan, keadilan dan
kepatuhan pada peraturan yang berlaku dalam organisasi.
2. Sistem
Reward dan punishment Dalam Pandangan Teoritis
Teori yang
sangat berpengaruh dalam teori humanistik ini adalah Theory of Human Motivation
yang dikembangkan oleh Abraham Maslow (1954). Maslow mengemukakan gagasan
hirarki kebutuhan manusia, yang terbagi menjadi dua kelompok, yaitu deficiency
needs dan growth needs. Deficiency needs meliputi (dari urutan paling bawah)
kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan akan cinta dan rasa
memiliki, dan kebutuhan akan penghargaan. Dalam deficiency needs ini, kebutuhan
yang lebih bawah harus dipenuhi lebih dulu sebelum ke kebutuhan di level
berikutnya. Growth needs meliputi kebutuhan kognitif, kebutuhan estetik,
kebutuhan aktualisasi diri, dan kebutuhan self-transcendence. Menurut Maslow,
manusia hanya dapat bergerak ke growth needs jika dan hanya jika deficiency needs
sudah terpenuhi. Hirarki kebutuhan Maslow merupakan cara yang menarik untuk
melihat hubungan antara motif manusia dan kesempatan yang disediakan oleh
lingkungan (Atkinson, 1983).
Dalam
Manajemen sumber daya manusia sistem reward dan punishment merupakan dua bentuk
metode dalam memotivasi seseorang untuk melakukan kebaikan dan meningkatkan
prestasinya. Kedua metode ini sudah cukup lama dikenal dalam dunia kerja. Tidak
hanya dunia kerja, dalam dunia pendidikanpun kedua metode ini kerap kali
digunakan. Namun selalu terjadi perbedaan pandangan, mana yang lebih
diprioritaskan antara reward dan punishment.
Berbagai
definisi reward dikemukakan oleh para ahli, seperti Hazli (2002:30)
mendefinisikan reward yaitu hadiah dan hukuman dalam situasi kerja, hadiah menunjukkan
adanya penerimaan terhadap perilaku dan perbuatan, sedangkan hukuman
menunjukkan penolakan perilaku dan perbuatannya. Nugroho (2006:5) juga
mengatakan bahwa reward artinya ganjaran, hadiah, penghargaan atau imbalan.
Reward merupakan salah satu alat untuk meningkatkan motivasi para pegawai
Metode ini bisa mengasosiasikan perbuatan dan kelakuan seseorang dengan
perasaan bahagia, senang, dan biasanya akan membuat mereka melakukan suatu
perbuatan yang baik secara berulang-ulang. Selain motivasi, reward juga
bertujuan agar seseorang menjadi giat lagi usahanya untuk memperbaiki atau
meningkatkan prestasi yang telah dicapai.Berbeda dengan pernyataan tersebut,
Istiara (2008) mendefinisikan reward sebagai suatu penghargaan terhadap suatu
karya yang telah dihasilkan ataupun telah dilakukan oleh seseorang.
Wahyuningsih
(2009) juga mendefinisikan reward adalah penghargaan/hadiah untuk sesuatu hal
yang tercapai.
Sedangkan
punishment adalah hukuman atas suatu hal yang tidak tercapai/pelanggaran.
Hukuman seperti apa yang harus diberikan. Setiap orang pasti beda persepsi dan
beda pendapat. Pada dasarnya keduanya sama-sama dibutuhkan dalam memotivasi
seseorang, termasuk dalam memotivasi para pegawai dalam meningkatkan
kinerjanya. Keduanya merupakan reaksi dari seorang pimpinan terhadap kinerja
dan produktivitas yang telah ditunjukkan oleh bawahannya, hukuman untuk
perbuatan jahat dan ganjaran untuk perbuatan baik. Melihat dari fungsinya itu,
seolah keduanya berlawanan, tetapi pada hakekatnya sama-sama bertujuan agar seseorang
menjadi lebih baik, termasuk dalam memotivasi para pegawai dalam bekerja.
Berdasarkan
definisi reward dan punishment, pada prinsipnya kedua pernyataan tersebut
menekankan bahwa reward diberikan kepada seseorang sebagai apresiasi terhadap
kinerjanya sehingga yang bersangkutan termotivasi untuk melakukan suatu
pekerjaan menjadi lebih baik lagi. Qodriyah (2008), mengatakan bahwa
penghargaan (reward) sangat penting untuk meningkatkan kegiatan yang produktif
dan mengurangi kegiatan yang kurang produktif. Dengan reward, pegawai akan
terangsang untuk meningkatkan kegiatan yang positif dan produktif. Penghargaan
ini akan lebih bermakna apabila dikaitkan dengan prestasi pegawai secara
terbuka sehingga setiap pegawai memiliki peluang untuk meraihnya. Contohnya
adalah kepada pegawai yang bekerja profesional, produktif, terampil dan rajin.
Selain
definisi reward sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Francisca (2006:2)
memfokuskan definisi reward sebagai hadiah atau bonus yang diberikan karena
prestasi seseorang. Reward dapat berwujud banyak rupa. Paling sederhana berupa
kata-kata seperti pujian adalah salah satu bentuknya.
Reward
biasanya digunakan untuk mengendalikan jam kerja seseorang dalam organisasi
(Raharja, 2006:10). Artinya, dengan reward seseorang bekerja dapat dilakukan
tanpa ada kendali langsung dari pimpinan, melainkan dapat berjalan apa adanya
sesuai evaluasi kinerja sebelumnya. Selebihnya, dengan reward seseorang dapat
meningkatkan cara kerjanya tanpa harus dikendalikan pimpinan. Hal ini juga ditegaskan
Gouillart and Kelly (dalam Raharja, 2006:12) bahwa reward yang diperoleh atau
diharapkan akan diperoleh sebagai konsekwensi dari apa yang mereka kerjakan
akan merubah perilaku manusia secara fundamental.
Jefrey
Pfeffer (dalam Afiff, 2004J, juga mengomentari makna reward. Menurutnya promosi
atau pertambahan penghasilan akan dipandang sebagai kenaikan gaji dan akan
membekas sebagai reward indikator hanya selama kurang lebih 30 hari saja.
Setelah itu ia hanya akan dilihat sebagai 'gaji' semata atau penghasilan rutin.
Jeffrey juga menekankan sebagai berikut: "Bila para manajer hanya
menggunakan insentif sebagai alat kompensasi untuk meningkatkan performance,
maka hasilnya ada dua. Pertama, nothing will happen over the long run dan
kedua, they (staff) will spend a lot more money. Jadi yang paling baik adalah
membuat sistem yang berimbang antara intrinsic dan extrinsic rewards. Dengan
kata lain, insentif dalam bentuk uang, harus tetap dan selalu disertai dengan
pengakuan manajemen terhadap eksistensi dan kontribusi karyawan terhadap
perusahaan.
Selanjutnya
Gouillart dan Kelly (dalam Raharja, 2006:10) mengemukakan ada 3 sifat dalam
membangun system reward yaitu;
(a)
mengaitkan system reward dengan tujuan organisasi,
(b)
memperluas sistem reward yang melampauhi batas-batas perusahaan,
(c)
mendorong orang-orang dalam organisasi menentukan reward sendiri.
Tujuan dan
ukuran suatu organisasi atau instansi saling berkaitan dimana reward sebagai
pengikat. Idealnya reward mencerminkan tujuan organisasi dan berkaitan dengan
ukuran yang bersifat multidimensi yang akan mendorong kinerja orang dan
organisasi secara keseluruhan. Seberapa jauh seseorang memberikan konstribusi
terhadap pencapai tujuan organisasi sesuai dengan ukuran, visi dan misi
organisasi menjadi dasar dalam menentukan sistem reward seseorang.
Memperluas
sistem reward melampauhi batas-batas perusahaan mengandung arti bahwa system
reward dengan mengaitkan pada jaringan di luar organisasi (external
stakeholder) seperti pemasok, pelanggan mitra strategis, dan lain-lain. Pada
organisasi pemerintah misalnya, reward tidak semata-mata ditekankan pada
seberapa besar kuota yang dicapai oleh seseorang, tetapi juga dikaitkan dengan
seberapa tinggi kepuasan masyarakat yang dilayani. Dengan demikian, masyarakat
merupakan bagian integral dari sistem pengukuran kinerja individual dan
organisasi. Seperti juga reward terhadap pegawai, mereka akan memiliki motivasi
tinggi atau rendah, tergantung kepada bagaimana organisasi atau instansi
pemerintah memperlakukan mereka.
Oleh
karenanya dalam praktek, reward terhadap external stakeholder mungkin sulit dan
bersifat tidak langsung. Kendati demikian, beberapa bentuk yang mungkin
diberikan antara lain memberikan penghargaan, pelibatan dalam pertemuan atau
berbagai seremoni organisasi dan sebagainya.Intinya adalah bagaimana
bentuk-bentuk reward dan punishment ini dikomunikasikan sehingga dirasakan oleh
penerima sebagaimana yang diharapkan oleh organisasi. Mendorong orang-orang
untuk menentukan reward-nya sendiri, karena setiap organisasi secara implisit
memberi beban berupa sekumpulan tugas (a pack) pada pundak setiap orang,
sebagai dasar partisipasi mereka dalam organisasi.
Gouillart
dan Kelly (dalam Raharja, 2006:11) menyebutnya sebagai kontrak psikologis.
Kontrak psikologis menurut Gouillart telah muncul dan berhasil di sejumlah
perusahaan. Bentuk kontrak psikologis kalau dinyatakan dalam statement, kurang
lebih sebagai berikut; "Anda adalah seorang individu yang bertanggung
jawab terhadap hidup anda sendiri, beri kami (perusahaan) dedikasi (anda)
dengan menumbuhkan dan menjadikan (perusahaan) Iebih baik, dan kami akan
(memberi) anda kesempatan besar untuk berkembang dan hidup Iebih baik."
Kontrak psikologis yang seimbang antar perusahaan dengan individu dicerminkan
dalam suasana dimana perusahaan mengharapkan dedikasi dan loyalitas pekerja,
sementara para pekerja juga menyadari (tahu) bahwa perusahaan akan memberikan
reward kepada para pekerja dan keluarganya.
Krietner dan
Kinicki (Wibowo, 2007) membagi reward menjadi exstrinsic reward dan Intrinsic
reward. Penghargaan ekstrinsik adalah penghargaan eksternal terhadap pekerjaan
seperti pembayaran, promosi dan jaminan sosial Gibson dkk (2000) menyatakan
sebagai penghargaan finansial, material atau sosial dan lingkungan. Penghargaan
ekstrinsik merupakan penghargaan yang bersifat eksternal yang diberikan
terhadap kinerja yang telah diberikan oleh pegawai. Penghargaan ekstrinsik
antara lain berupa penghargaan finansial (upah, gaji dan jaminan sosial),
interpersonal (pengakuan dan kemampuan berinteraksi sosial tentang pekerjaan)
dan promosi (mengangkat seseorang dengan mencocokkan orang yang tepat dengan
pekerjaannya).
Sedangkan
penghargaan intrinsik merupakan bagian dan pekerjaan itu sendiri, seperti
tanggung jawab, tantangan, dan karakteristik umpan balik dari pekerjaan.
Penghargaan intrinsik dapat dilihat dari penyelesaian pekerjaan, prestasi,
otonomi, dan pengembangan pribadi.
Menurut
Rosvinintia (2008:16), bahwa elemen dari total reward compensation :
Instrinsik, merupakan non cash reward, antara lain career development,
communication, non monetary recognition, performance management, dan work
environment. Ekstrinsik, ada yang merupakan financial reward, yaitu
compensation, benefit, penghargaan, bonus/insentif. Dan non financial reward,
berupa training/pendidikan, piagam/piala, perlakuan istimewa. Tujuan reward
stategy : To attrack, kandidat potensial yang diinginkan. To retain, pegawai
yang mempunyai kinerja baik. To motivate, seluruh karyawan agar memiliki
kinerja lebih baik dan lebih giat bekerja.
Gibson dkk
(Wibowo, 2007) tujuan utama program penghargaan adalah untuk menarik orang yang
cakap untuk bergabung dalam organisasi, menjaga pekerja untuk mencapai kinerja
tingkat tinggi. Lebih lanjut Wibowo (2007) menyatakan bahwa penghargaan yang
diberikan kepada individu diharapkan dapat meningkatkan motivasi pegawai karena
merasa pekerjaannya dihargai sehingga meningkatkan kinerja pegawai.Disamping
itu, penghargaan dan kinerja tinggi akan meningkatkan kepuasan pekerja atau
pegawai.
Hal ini
dipertegas lagi dengan penelitian tentang apa yang membuat individu mencapai
tingkat kepuasan kerja yang menunjukkan hal sebagai berikut:
1) Kepuasan
penghargaan merupakan fungsi atas seberapa banyak diterima dan seberapa besar
individu merasa harus menerima.
2) Perasaan
kepuasan individu dipengaruhi oleh perbandingan dengan apa yang terjadi pada
orang lain.
3) Kepuasan
dipengaruhi oleh seberapa puas pekerja atau pegawai terhadap penghargaan
intrinsik dan ekstrinsik.
4) Orang
berbeda tentang penghargaan mereka inginkan dan dalam kepentingan relatif
penghargaan yang berbeda bagi mereka.
5) Beberapa
penghargaan ekstrinsik memuaskan karena mengarah pada penghargaan lainnya.
Berdasarkan
pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa upah merupakan penggantian
atas jasa yang diberikan oleh para pekerja kepada pihak lain atau majikan.
Dengan demikian, dalam pemberian upah, perusahaan-perusahaan perlu
memperhatikan adil dan layak.
3. Faktor –
faktor yang Mempengaruhi Sintem Reward dan punishment.
Teori Maslow
mendorong penelitian-penelitian lebih lanjut yang mencoba mengembangkan sebuah
teori tentang motivasi yang memasukkan semua faktor yang mempengaruhi motivasi
ke dalam satu model (Grand Theory of Motivation), misalnya seperti yang
diusulkan oleh Leonard, Beauvais, dan Scholl (1995). Menurut model ini,
terdapat 5 faktor yang merupakan sumber motivasi, yaitu:
1)
instrumental motivation (reward dan punishment),
2) Intrinsic
Process Motivation (kegembiraan, senang, kenikmatan),
3) Goal
Internalization (nilai-nilai tujuan),
4) Internal
Self-Concept yang didasarkan pada motivasi, dan
5) External
Self-Concept yang didasarkan pada motivasi (Leonard, et.al, 1995).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar